Pengembangan Silabus

Posted: November 22, 2009 in Kuliah
Tags: , , ,

Mata kuliah: Kajian Kurikulum,Dosen Pembina: Dr. Wasis D Piyogo M.Pd, Dosen Pendamping: Febrita P.hainoek M.Pd, disusun oleh Novika Sari

Kata Pengantar

Kami ucapkan puji syukur kehadirat Tuhsn YME, karena limpahan rahmad dan taufik-Nya kami berhasil menyelesaikan tugas mata kuliah Kajian Kurikulum dengan judul Pengembangan Silabus Penjas dengan tepat waktu.

Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada :

  1. Dr. Wasis D. Dwiyogo, M.Pd dan Ibu Febrita Pouline Haynoke selaku dosen sekaligus pembimbing kami dalam memberikan pengarahan dan semangat.
  2. Teman-teman yang sudah bekerjasama dengan baik dan kompak dalam mengerjakan dan menyelesaikan tugas ini.

Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga tugas yang telah kami selesaikan bisa menambah pengalaman bagi kami dan bias mendapatkan nilai yang maksimal. Amin.

Daftar Isi

Kata Pengantar………………………………………………………………………….. i

Daftar Isi…………………………………………………………………………………… ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang………………………………………………………………        1

1.2 Rumusan Masalah………………………………………………………….        2

1.3 Tujuan…………………………………………………………………………        2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Silabus…………………………………………………………        3

2.2 Prinsip Pengembangan Silabus…………………………………………        4

2.3 Tahap-Tahap Pengembangan Silabus………………………………..

2.3 Langkah-Langkah Pengembangan Silabus………………………….        5

BAB III PENUTUP

Kesimpulan……………………………………………………………………….        9

Daftar Pustaka ………………………………………………………………………….. 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab IV Pasal 10 menyatakan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah berhak mengarahkan, membimbing, dan mengawasi penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selanjutnya, Pasal 11 Ayat (1) juga menyatakan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi. Dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, wewenang Pemerintah Daerah dalam penyelenggaraan pendidikan di daerah menjadi semakin besar. Lahirnya kedua undang-undang tersebut menandai sistem baru dalam penyelenggaraan pendidikan dari sistem yang cenderung sentralistik menjadi lebih desentralistik.

Kurikulum sebagai salah satu substansi pendidikan perlu didesentralisasikan terutama dalam pengembangan silabus dan pelaksanaannya yang disesuaikan dengan tuntutan kebutuhan siswa, keadaan sekolah, dan kondisi sekolah atau daerah. Dengan demikian, sekolah atau daerah memiliki cukup kewenangan untuk merancang danmenentukan materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran.

Untuk itu, banyak hal yang perlu dipersiapkan oleh daerah karena sebagian besar kebijakan yang berkaitan dengan implementasi Standar Nasional Pendidikan dilaksanakan oleh sekolah atau daerah. Sekolah harus menyusun kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) atau silabusnya dengan cara melakukan penjabaran dan penyesuaian Standar Isi dan Standar Kompentensi Lulusan yang ditetapkan dengan Permendiknas No. 23 Tahun 2006.

Di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional. Pendidikan dijelaskan:

  1. Kurikulum dan silabus SD/MI/SDLB/Paket A, atau bentuk lain yang sederajat menekankan pentingnya kemampuan dan kegemaran membaca dan menulis, kecakapan berhitung serta kemampuan berkomunikasi (Pasal 6 Ayat 6)
  2. Sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite madrasah,mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkankerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan di bawah supervise Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota yang bertangung jawab terhadap pendidikan untuk SD, SMP, SMA, dan SMK, serta Departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan MAK ( Pasal 17 Ayat 2)
  3. Perencanan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksananpembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar,metode pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar (Pasal 20)

Berdasarkan ketentuan di atas, daerah atau sekolah memiliki ruang gerak yang seluas-luasnya untuk melakukan modifikasi dan mengembangkan variasi-variasi penyelengaraan pendidikan sesuai dengan keadaan, potensi, dan kebutuhan daerah, serta kondisi siswa. Untuk keperluan di atas, perlu adanya panduan pengembangan silabus untuk setiap mata pelajaran, agar daerah atau sekolah tidak mengalami kesulitan.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Apa yang dimaksud dengan pengertian silabus?
  2. Bagaimana prinsip pengembangan silabus?
  3. Bagaimana tahap-tahap pengembangan silabus?
  4. Bagaimana langkah-langkah pengembangan silabus?

1.3 Tujuan

  1. Untuk mengetahui pengertian silabus.
  2. Untuk mengetahui prinsip-prinsip pengembangan silabus.
  3. Untuk mengetahui tahap-tahap pengeembangan silabus.
  4. Untuk mengetahui langkah-langkah pengembangan silabus.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Silabus

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar/bahan.

Adapun pengertian silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam indikator ketercapaian kompetensi, materi pokok, pengalaman belajar, dan penilaian. Dengan demikian, silabus pada dasarnya menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :

  1. Kompetensi apa yang harus dicapai siswa yang dirumuskan dalam standar kompetensi, kompetensi dasar dan materi pokok ;
  2. Bagaimana cara mencapainya, yang dijabarkan dalam pengalaman belajar serta alokasi waktu dan sumber belajar yang diperlukan ; dan
  3. Bagaimana mengetahui ketercapaian kompetensi berdasarkan indikator sebagai acuan dalam menentukan jenis dan aspek yang akan dinilai.

Pengembangan silabus

Pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau

berkelompok dalam sebuah sekolah atau beberapa sekolah, kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) pada atau Pusat Kegiatan Guru (PKG), dan Dinas Pendidikan.

1. Guru

Sebagai tenaga professional yang memiliki tangung jawab langsung terhadap kemajuan belajar siswa, seorang guru diharapkan mampu mengembangkan silabus sesuai dengan kompentensi mengajarnya secara mandiri. Di sisi lain guru lebih mengenal karakteristik siswa dan kondisi sekolah serta lingkungannya.

2. Kelompok Guru

Apabila guru kelas atau guru mata pelajaran karena sesuatu hal belum dapat melaksanakan pengembangan silabus secara mandiri, maka pihak sekolah dapat mengusahakan untuk membentuk kelompok guru kelas atau guru mata pelajaran untuk mengembangkan silabus yang akan dipergunakan oleh sekolah tersebut

3. Kelompok Kerja Guru (MGMP/PKG)

Sekolah yang belum mampu mengembangkan silabus secara mandiri, sebaiknya bergabung dengan sekolah lain melalui forum MGMP/PKG untuk bersama-sama mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah-sekolah dalam lingkup MGMP/PKG setempat.

4. Dinas Pendidikan

Dinas Pendidikan setempat dapat memfasilitasi penyusunan silabus dengan membentuk sebuah tim yang terdiri dari para guru berpengalaman di bidangnya masing-masing. Dalam pengembangan silabus ini sekolah, kelompok kerja guru, atau dinas pendidikan dapat meminta bimbingan teknis dari perguruan tinggi, LPMP, atau unit utama terkait yang ada di Departemen Pendidikan Nasional.

2.2 Prinsip Pengembangan Silabus

1. Ilmiah

Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.

2. Relevan

Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik.

3. Sistematis

Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.

4. Konsisten

Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar/bahan/alat, dan sistem penilaian.

5. Memadai

Cakupan indikator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.

6. Aktual dan Kontekstual

Cakupan indikator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.

7. Fleksibel

Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.

8. Menyeluruh

Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor).

9. Desentralistik

Pengembangan silabus ini bersifat desentralistik. Maksudnya bahwa kewenangan pengembangan silabus bergantung pada daerah masing-masing, atau bahkan sekolah masing-masing.

2.3 Tahap-tahap Pengembangan Silabus

1. Perencanaan

Tim yang ditugaskaan untuk menyusun silabus terlebih dahulu perlu

mengumpulkan informasi dan mempersiapkan kepustakan atau referensi yang

sesuai untuk mengembangkan silabus. Pencarian informasi dapat dilakukan

dengan memanfaatkan perangkat teknologi dan informasi seperti multi media dan

internet.

2. Pelaksanaan

Dalam melaksanakan penyusunan silabus perlu memahami semua perangkat yang berhubungan dengan penyusunan silabus, seperti Standar Isi yang berhubungan dengan mata pelajaran yang bersangkutan dan Standar Kompetensi Lulusan serta Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan.

3. Perbaikan

Buram silabus perlu dikaji ulang sebelum digunakan dalam kegiatan

pembelajaran. Pengkajian dapat terdiri atas para spesialis kurikulum, ahli mata

pelajaran, ahli didaktik-metodik, ahli penilaian, psikolog, guru/instruktur, kepala

sekolah, pengawas, staf profesional dinas pendidikan, perwakilan orang tua siswa,

dan siswa itu sendiri.

4. Pemantapan

Masukan dari pengkajian ulang dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk

memperbaiki buram awal. Apabila telah memenuhi kriteria dengan cukup baik

dpat segera disampaikan kepada Kepala Dinas Pendidikan dan komunitas sekolah

lainnya.

5. Penilaian Silabus

Penilaian pelaksanaan silabus perlu dilakukan secara berkala dengan

mengunakaan model-model penilaian kurikulum.

2.4 Langkah-Langkah Pengembangan Silabus

  1. Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Kompetensi Dasar merupakan sejumlah kemampuan yang harus dimiliki peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan untuk menyusun indikator kompetensi. Kompetensi dasar yang digunakan atau dipilih sesuai dengan yang tercantum dalam Standar Kompetensi dan Kompetesi Dasar Mata Pelajaran. Sebelum menentukan atau memilih Kompetensi Dasar, penyusun terlebih dahulu mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran sebagaimana tercantum pada standar isi, dengan memperhatikan hal-hal berikut:

  1. urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan tingkat kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di SI;
  2. keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran;
  3. keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar antarmata pelajaran.

2. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran

Dalam mengidentifikasi materi pokok pembelajaran yang menunjang pencapaian kompetensi dasar harus dipertimbangkan:

  1. potensi peserta didik
  2. relevansi dengan karakteristik daerah
  3. tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual peserta didik
  4. kebermanfaatan bagi peserta didik
  5. struktur keilmuan
  6. aktualitas, kedalaman dan keluasan materi pembelajaran;
  7. relevansi dengan kebutuhan peseta didik dan tuntutan lingkungan
  8. alokasi waktu

Selain itu juga harus diperhatikan:

  1. kesahihan (validity): materi memang benar-benar teruji kebenaran dan kesahihannya
  2. tingkat kepentingan (Significance): materi yang diajarkan memang benar-benar diperlukan oleh siswa
  3. kebermanfaatan (utility) : materi tersebut memberikan dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan pada jenjang berikutnya
  4. layak dipelajari (learnability): materi layak dipelajari baik dari aspek tingkat kesulitan maupun aspek pemanfaatan bahan ajar dan kondisi setempat.
  5. menarik minat (interest) : materinya menarik minat siswa dan memotivasinya untuk mempelajari lebih lanjut.

3. Mengembangan Kegiatan Pembelajaran

Pengalaman belajar adalah kegiatan fisik maupun mental yang dilakukan siswa dalam berinteraksi dengan bahan ajar.

Kriteria mengembangkan pengalaman belajar sebagai berikut :

  1. Pengalaman belajar disusun bertujuan untuk memberikan bantuan kepada para pendidik, khususnya guru, agar mereka dapat bekerja dan melaksanakan proses pembelajaran secara propesional sesuai dengan tuntutan kurikulum
  2. Pengalaman belajar disusun berdasarkan atas satu tuntutan kompetensi dasar secara utuh
  3. Pengalaman belajar memuat rangkaian kegiatan yan harus dilakukan oleh siswa secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar.
  4. Pengalaman belajar berpusat pada siswa (student centered). Guru harus selalu berfikir kegiatan apa yang bisa dilakukan agar siswa memiliki kompetensi yang telah di tetapkan
  5. Materi (content) pengalaman belajar dapat berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan.
  6. Perumusan pengalaman belajar harus jelas materi/konten yang ingin dikuasai siswa.
  7. Penentuan urutan langkah pembelajaran sangat penting artinya bagi materi-materi yang memerlukan prasyarat tertentu.
  8. Pendekatan pembelajaran yang di gunakan bersifat spiral (mudah ke sukar; konkret ke abstrak; dekat ke jauh) dan juga memerlukan urutan pembelajaran yang berstruktur.
  9. Rumusan pernyataan dalam pengalaman belajar minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar siswa, yaitu kegiatan siswa dan materi.

Dalam memilih kegiatan siswa mempertimbangkan hal sebagai berikut:

  1. Memberikan peluang bagi siswa untuk mencari, mengolah dan menemukan sendiri pengetahuan, di bawah bimbingan guru.
  2. Mencerminkan ciri khas dalam pegembangan kemapuan mata pelajaran.
  3. Disesuaikan dengan kemampuan siswa, sumber belajar dan sarana yang tersedia
  4. Bervariasi dengan mengkombinasikan kegiatan individu/perorangan, berpasangan, kelompok dan klasikal.
  5. Memperhatikan pelayanan terhadap perbedaan individual siswa seperti: bakat, minat, kemampuan, latar belakang keluarga, sosial-ekomomi dan budaya serta masalah khusus yang dihadapi siswa yang bersangkutan.

4. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi

Indikator merupakan penjabaran dari kompetensi dasar yang nenunjuk tanda-tanda, perbuatan dan atau respon yang dilakukan atau ditampilkan oleh peserta didik. Indikator dirumuskan sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik dan dirumuskan dalam kata kerja operasioanl yang terukur dan atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar dalam menyusun alat penilaian.

Kriteria indikator sebagai berikut:

  • Sesuai tingkat perkembangan berfikir siswa
  • Berkaitan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar.
  • Memperhatikan aspek manfaat dalam kehidupan sehari-hari (Life Skills).
  • Harus dapat menunjukan pencapaian hasil belajar siswa secara utuh (kognitif, afektif dan psikomotor).
  • Memperhatikan sumber-sumber belajar yang relevan
  • Dapat diukur / dapat dikuantifikasi
  • Memperhatikan ketercapaian standar lulusan secara nasional
  • Berisi kata kerja operasional
  • Tidak boleh mengandung pengertian ganda (ambigu).

5. Penentuan Jenis Penilaian

Di dalam kegiatan penilaian ini terdapat tiga komponen penting, yang meliputi: (a) teknik penilaian, (b) bentuk instrumen, dan (c) contoh instrumen.

a. Teknik Penilaian

Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis dan menafsirkan proses dan hasil belajar siswa yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Adapun yang dimaksud dengan teknik penilaian adalah cara-cara yang ditenmpuh untuk memperoleh informasi mengenai proses dan produk yang dihasilkan pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik. Ada beberapa teknik yang dapat dilakukan dalam rangka penilaian ini, yang secara garis besar dapat dikategorikan sebagai teknik tes dan teknik nontes. Teknik tes merupakan cara untuk memperoleh informasi melalui pertanyaan yang  memerlukan jawaban betul atau salah, sedangkan teknik nontes adalah suatu cara untuk memperoleh informasi melalui pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban betul atau salah. Untuk melaksanakan teknik penilaian diperlukan adanya berbagai kriteria berikut ini.

  1. Penulisan jenis penilaian harus disertai dengan aspek-aspek yang akan dinilai sehingga memudahkan dalam pembuatan soal-soalnya.
  2. Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian indikator.
  3. Penilaian menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan siswa setelah siswa mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya.
  4. Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan siswa.
  5. Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindakan perbaikan, berupa program remedi. Apabila siswa belum menguasai suatu kompetensi dasar, ia harus mengikuti proses pembelajaran lagi, sedang bila telah menguasai kompetensi dasar, ia diberi tugas pengayaan.
  6. Siswa yang telah menguasai semua atau hampir semua kompetensi dasar dapat diberi tugas untuk mempelajari kompetensi dasar berikutnya.
  7. Dalam sistem penilaian berkelanjutan, guru harus membuat kisi-kisi penilaian dan rancangan penilaian secara menyeluruh untuk satu semester dengan menggunakan teknik penilaian yang tepat.
  8. Penilaian dilakukan untuk menyeimbangkan berbagai aspek pembelajaran: kognitif, afektif dan psikomotorik dengan menggunakan berbagai model penilaian, formal dan tidak formal secara berkesinambungan.
  9. Penilaian merupakan suatu proses pengumpulan pelajaran dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa dengan menerapkan prinsip berkelanjutan, bukti-bukti otentik, akurat dan konsisten sebagai akuntabilitas publik.

10.  Penilaian merupakan proses identifikasi pencapaian kompetensi dan hasil belajar yang dikemukakan melalui pernyataan yang jelas tentang standar yang harus dan telah dicapai disertai dengan peta kemajuan hasil belajar siswa.

11.  Penilaian berorientasi pada Standar Kompetensi, Kompetensi dasar dan indikator dengan demikian hasil akan memberikan gambaran mengenai perkembangan pencapaian kompetensi.

12.  Penilaian dilakukan secara berkelanjutan ( direncanakan dan dilakukan terus menerus) guna mendapatkan gambaran yang utuh mengenai perkembangan penguasaan kompetensi oleh siswa, baik sebagai efek langsung (main effect) maupun efek pengiring (nurturant effect) dari proses pembelajarn.

13.  Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara, maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan.

b. Bentuk Instrumen

Bentuk instrumen yang dapat dikembangkan dapat meliputi instrumen-instrumen

yang erat terkait dengan jenis tes. Oleh karena itu, bentuk instrumen dapat dibedakan menjadi:

  1. Instrumen Tes, dapat berbentuk: esai/uraian, objektif, isian, menjodohkan, unjuk kerja
  2. Instrumen Nontes, dapat berupa: lembar observasi, penugasan, kuesioner,

Penentuan dan pencantuman bentuk instrumen ini dapat diperhatikan jenis tes apa yang akan digunakan. Sesudah penentuan instrumen tes telah dipandang tepat, selanjutnya instrumen tes itu dituliskan di dalam kolom matriks silabus yang tersedia.

c. Contoh Instrumen

Instrumen yang sudah tersusun, selanjutnya diberikan contoh yang dapat dituliskan di dalam kolom matriks silabus yang tersedia. Namun, apabila dipandang hal itu menyulitkan karena kolom yang tersedia tidak mencukupi, selanjutnya bentuk instrumen penilaian diletakkan di dalam lampiran. Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, selanjutnya keseluruhan komponen

yang semestinya terdapat di dalam suatu silabus mata pelajaran dapat dilihat di bawah ini.

6. Menentukan Alokasi Waktu

Alokasi waktu adalah waktu yang dibutuhkan untuk ketercapaian satu Kompetensi

dasar, dengan memperhatikan:

  1. Minggu efektif per semester
  2. Alokasi waktu mata pelajaran perminggu
  3. Jumlah kompetensi dasar persemester
  4. Keluasan
  5. Kedalaman
  6. Tingkat kesulitan
  7. Tingkat kepentingan kompetensi dasar.

Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam.

7. Menentukan Sumber/Fasilitas/Alat Belajar

  • Sumber

Sumber belajar adalah rujukan, referensi atau literatur yang digunakan dalam menyusun silabus atau pembelajaran yang berupa media cetak dan elektronik, narasumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial,dan budaya. Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran,kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.

  • Fasilitas

Fasilitas adalah sesuatu yang diperlukan dalam proses pembelajaran yang sifatnya menetap seperti: lapangan, ruang senam, kolam.

  • Alat

Alat adalah segala sesuatu yang digunakan pembelajaran yang sifatnya mudah

dipindahkan, misalnya: bola, net, satelkok, matras, boks senam, simpai, tongkat, pita.

8. Contoh Model Silabus

Dalam menyusun silabus dapat menggunakan salah satu format yang sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan. Pada dasarnya ada dua jenis, yaitu jenis kolom (format 1) dan jenis uraian (format 2). Dalam menusun urutan KD, urutan penempatan materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator dan seterusnya dapat ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan, sejauh tidak mengurangi komponen-komponen dalam silabus.

Dalam implementasinya, silabus dijabarkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran, dilaksanakan,dievaluasi, dan ditindaklanjuti oleh masing-masing guru.

Silabus harus dikaji dan dikembangkan secara berkelanjutan dengan memperhatikan masukan hasil evaluasi hasil belajar, evaluasi proses (pelaksanaan pembelajran), dan evaluasi rencana pembelajaran.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar/bahan.

Prinsip pengembangan silabus yaitu: ilmiah, relevan, sistematis, konsisten, memadai, aktual dan kontekstual,fleksibel dan menteluruh.

Pengembang silabus yaitu: guru, kelompok guru, Dinas Pendidikan, Kelompok Kerja Guru (MGMP/PKG).

Tahap-tahap pengembangan silabus meliputi: perencanaan, pelaksanaan, perbaikan, penilaian silabus, pemantapan.

Langkah-Langkah pengembangan silabus meliputi: mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar, mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran, mengembangan kegiatan pembelajaran, merumuskan indikator pencapaian kompetensi, penentuan jenis penilaian, menentukan alokasi waktu, menentukan sumber/fasilitas/alat belajar, contoh model silabus.

DAFTAR PUSTAKA

Dwiyogo, Wasis 2007. Pengembangan Kurikiulum Penjas&Olahraga. Malang. Wineka Media

http://smpn11medan.files.wordpress.com/2008/05/silabus-penjas.pdf

www.docstoc.com/docs/6111497/silabuspenjas-SMA

www.docstoc.com/docs/6112120/silabuspenjas-SMP

www.powerpoint-search.com/pengembangansilabus-dan-rpp-penjaskes-ppt

http://www.scribd.com/doc/12803996/silabuspenjas

Comments
  1. bejo says:

    lanjut Dek…! aq PJKR 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s